Kalau ke Lampung, salah satu hal yang paling cepat dikenali orang luar dari budaya di sini adalah siger, mahkota berbentuk lancip menyerupai tanduk yang biasa dipakai pengantin perempuan. Bentuknya megah, berkilau, sering jadi latar foto wisatawan yang mampir ke Menara Siger di perbatasan Bakauheni. Tapi di balik kemegahan yang biasa dilihat orang dalam sekilas itu, ada cerita yang jauh lebih panjang, yang saya baru benar-benar mengerti setelah duduk lama dengan salah satu perias pengantin adat di daerah Lampung Selatan.
Bukan Sekadar Hiasan Kepala
Namanya Ibu Rosidah, sudah lebih dari tiga puluh tahun merias pengantin adat Lampung. Rumahnya sederhana, tapi ada satu ruangan khusus yang penuh dengan siger, kain tapis, dan perlengkapan adat lain yang tersusun rapi di lemari kaca, seperti museum kecil yang hidup.
“Siger itu bukan cuma mahkota, Nak,” katanya sambil menunjukkan salah satu siger miliknya yang sudah dipakai puluhan tahun. “Setiap lekukan di siger itu ada artinya.”
Ia menjelaskan, jumlah lekukan atau gerigi pada siger biasanya berjumlah sembilan atau tujuh, tergantung wilayah adat. Angka-angka itu bukan sekadar hitungan dekoratif, melainkan melambangkan filosofi tertentu, seperti kesatuan marga, atau perjalanan hidup yang harus dilalui perempuan Lampung dari kecil hingga menikah. Ada juga makna tentang kedudukan perempuan dalam adat, karena siger biasanya dikenakan bukan hanya pengantin, tapi juga penari sigeh pengunten yang menyambut tamu kehormatan.
Yang menarik, siger juga membawa cerita tentang perbedaan wilayah adat di Lampung sendiri. Masyarakat adat Pepadun dan Saibatin, dua kelompok besar adat Lampung, punya bentuk dan detail siger yang tidak sama persis. Kalau diperhatikan lebih dekat, orang yang paham betul bisa menebak dari daerah mana seorang pengantin berasal, hanya dari bentuk mahkota yang ia pakai.
Proses yang Tidak Sesederhana Kelihatannya
Sebelum sebuah siger sampai ke kepala pengantin, ada proses panjang yang jarang dilihat orang. Ibu Rosidah bercerita, dulu siger dibuat dari bahan yang lebih sederhana, kadang dari kuningan atau bahkan anyaman yang dilapisi warna keemasan. Sekarang sebagian besar sudah memakai bahan yang lebih modern agar lebih ringan dan tahan lama, karena siger asli yang berat bisa membuat pengantin kesulitan menahan kepala tegak selama berjam-jam acara adat berlangsung.
“Dulu, pengantin harus latihan dulu sebelum hari H, supaya lehernya kuat,” katanya sambil tertawa kecil. “Sekarang jarang ada yang mau repot begitu, jadi bahannya diringankan.”
Perubahan semacam ini menarik untuk diperhatikan, karena menunjukkan bagaimana tradisi tidak selalu kaku, ia beradaptasi dengan kebutuhan zaman, tanpa harus kehilangan makna intinya. Bentuk boleh menyesuaikan, tapi filosofi di baliknya tetap coba dijaga oleh orang-orang seperti Ibu Rosidah, yang setiap kali merias pengantin, selalu menyempatkan diri menjelaskan arti setiap bagian busana adat kepada mempelai, meski hanya sekilas di sela persiapan yang biasanya terburu-buru.
Ketika Siger Keluar dari Konteks Adatnya
Di sisi lain, ada juga fenomena yang membuat Ibu Rosidah sedikit resah. Belakangan ini, siger sering dipakai dalam konteks yang jauh dari makna aslinya, misalnya sebagai properti foto di acara-acara umum, konten media sosial, bahkan kadang jadi aksesoris yang dikenakan sembarangan tanpa memahami maknanya.
“Boleh saja dipakai, itu bagus, artinya orang jadi kenal budaya kita,” katanya. “Tapi kadang saya sedih, banyak yang pakai cuma karena lucu-lucuan, tidak tahu ini sebenarnya simbol yang serius.”
Saya jadi berpikir, ini semacam dilema yang sering terjadi pada banyak simbol budaya di berbagai daerah, termasuk Lampung: di satu sisi, semakin dikenal luas, semakin besar peluang budaya itu bertahan dan tidak dilupakan generasi muda. Tapi di sisi lain, ada risiko makna aslinya perlahan tergerus, jadi sekadar hiasan tanpa cerita, tanpa penghormatan pada filosofi di baliknya.
Anak Muda dan Siger yang Perlahan Dikenal Lagi
Untungnya, tidak semua cerita berjalan ke arah yang mengkhawatirkan. Beberapa anak muda di Bandar Lampung mulai tertarik mempelajari lebih dalam soal siger dan busana adat lainnya, bukan sekadar memakainya untuk foto, tapi juga mencari tahu makna di baliknya. Ada komunitas kecil yang rutin mengadakan latihan tari adat, termasuk sigeh pengunten, sebagai cara menjaga siger tetap hidup dalam konteks aslinya, bukan sekadar jadi properti dekoratif.
Salah seorang anggota komunitas itu, seorang mahasiswi yang saya temui saat latihan tari di sebuah balai desa, bilang ke saya, “Awalnya ikut cuma karena diajak teman, penasaran aja. Tapi lama-lama jadi sayang, ternyata banyak yang belum saya tahu soal budaya sendiri.”
Pengakuan sederhana seperti itu, menurut saya, adalah bentuk kecil dari harapan. Bahwa siger, dan simbol-simbol adat Lampung lainnya, masih punya ruang untuk dikenal lebih dalam, bukan hanya oleh wisatawan yang berhenti sejenak untuk berfoto, tapi juga oleh generasi muda Lampung sendiri yang perlahan mulai penasaran dengan akar budayanya.
Mahkota yang Menyimpan Banyak Cerita
Setiap kali saya melihat siger sekarang, saya tidak lagi hanya melihatnya sebagai mahkota emas yang berkilau di panggung pernikahan. Saya membayangkan proses panjang di baliknya, tangan-tangan seperti Ibu Rosidah yang menjaga maknanya tetap hidup, filosofi angka dan lekukan yang diwariskan turun-temurun, serta perjuangan kecil generasi muda yang mencoba memahami kembali apa yang hampir terlupakan.
Siger memang indah dipandang. Tapi keindahannya akan terasa jauh lebih berarti, kalau kita juga mau meluangkan waktu untuk mendengar cerita di baliknya, bukan sekadar menjadikannya latar foto yang cepat dilupakan setelah difoto.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.
Tulis komentar