Ada sebuah rumah yang setiap kali saya datangi, selalu membuat saya merasa sedang pulang sekaligus menjadi orang asing.
Rumah itu tidak berpindah.
Dindingnya masih berdiri di tempat yang sama. Pintu depannya masih berderit sedikit ketika dibuka. Di halaman, beberapa pohon yang saya kenal sejak kecil masih tumbuh, meski sekarang tampaknya lebih pendek karena saya yang bertambah tinggi.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Mungkin bukan rumahnya.
Mungkin manusianya.
Atau mungkin, memang begitu cara waktu bekerja. Ia tidak selalu merobohkan sesuatu. Kadang ia hanya menggeser sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita berdiri di tempat yang sama dan menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar bisa dikembalikan seperti semula.
Saya sering memikirkan itu ketika pulang ke Lampung.
Bukan karena Lampung berubah menjadi tempat yang sama sekali lain. Jalan-jalan masih memiliki nama yang familiar. Warung kopi tetap ramai. Pasar tetap berisik sejak pagi. Di beberapa sudut, aroma tanah setelah hujan masih terasa seperti sesuatu yang pernah saya kenal sangat baik.
Tetapi ingatan punya caranya sendiri dalam mempermainkan kita.
Kita mengira sedang kembali ke sebuah tempat, padahal sebenarnya kita sedang mencoba kembali kepada versi diri kita yang dulu pernah tinggal di sana.
Kota yang Berjalan Lebih Cepat dari Ingatan
Kadang saya melewati jalan yang dulu terasa begitu jauh.
Ketika masih kecil, perjalanan dari rumah ke kota bisa terasa seperti petualangan kecil. Ada rasa senang melihat kendaraan yang lebih banyak, bangunan yang lebih tinggi, dan lampu-lampu yang mulai menyala ketika sore datang.
Sekarang, jalan itu terasa biasa saja.
Bukan karena jaraknya memendek, melainkan karena hidup membuat kita terbiasa bergerak lebih cepat.
Bandar Lampung, seperti banyak kota lain, terus berubah. Bangunan baru tumbuh. Jalan diperlebar. Tempat yang dulu hanya berupa tanah kosong berubah menjadi pertokoan, perumahan, atau sesuatu yang bahkan namanya sulit saya ingat.
Perubahan selalu tampak wajar ketika kita melihatnya sedikit demi sedikit.
Yang terasa aneh adalah ketika kita pergi cukup lama, lalu kembali dan mendapati semuanya sudah bergerak tanpa menunggu kita.
Di situlah saya kadang merasa bahwa sebuah kota sebenarnya tidak pernah benar-benar tinggal diam.
Kitalah yang sering berharap ia tetap sama.
Tentang Orang-Orang yang Dulu Selalu Ada
Barangkali yang paling berubah dari sebuah tempat bukan bangunannya.
Melainkan orang-orangnya.
Ada tetangga yang dulu hampir setiap sore duduk di depan rumah, tetapi kini rumahnya tertutup lebih sering. Ada teman sekolah yang sekarang entah tinggal di kota mana. Ada orang-orang yang dulu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, sampai-sampai kita tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari kita akan kehilangan kabar tentang mereka.
Dulu, rasanya semua orang akan selalu ada.
Sekarang saya tahu, itu tidak benar.
Orang-orang pergi. Ada yang pergi ke Jakarta, Bandung, Batam, atau kota lain yang dulu hanya kami dengar dari televisi. Ada yang kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun merantau. Ada pula yang tetap tinggal, tetapi hidupnya sudah bergerak ke arah yang tidak lagi bersinggungan dengan hidup kita.
Dan ada yang pergi dengan cara yang tidak memungkinkan kita untuk bertemu lagi.
Begitulah hidup berjalan.
Tidak ada pengumuman besar setiap kali seseorang perlahan keluar dari kehidupan kita. Tidak ada musik sedih yang tiba-tiba terdengar ketika sebuah pertemanan mulai jarang berbalas pesan.
Semuanya terjadi biasa saja.
Sampai suatu hari kita melihat sebuah nama, sebuah rumah, atau sebuah jalan, lalu teringat bahwa dulu ada seseorang di sana.
Lampung yang Tidak Hanya Ada di Peta
Mungkin karena itu, bagi saya, Lampung tidak pernah hanya menjadi nama sebuah provinsi.
Lampung adalah suara motor yang berhenti di depan rumah menjelang magrib. Ia adalah hujan sore yang membuat jalanan basah dan orang-orang menunda pulang beberapa menit lebih lama. Ia adalah perjalanan antarkota yang ditemani pemandangan hijau, rumah-rumah di pinggir jalan, dan warung kecil yang kadang kita datangi tanpa alasan khusus.
Lampung juga adalah percakapan-percakapan sederhana.
Tentang harga kopi. Tentang jalan yang sedang diperbaiki. Tentang anak seseorang yang kini kuliah di luar kota. Tentang siapa yang baru pulang dari perantauan.
Hal-hal kecil seperti itu sering tidak masuk ke dalam cerita besar tentang sebuah daerah.
Tidak akan muncul dalam brosur wisata.
Tidak selalu dianggap penting.
Tetapi justru di sanalah sebuah tempat hidup.
Sebuah daerah tidak hanya dibentuk oleh gedung, jalan, atau angka pertumbuhan. Ia juga dibentuk oleh kebiasaan orang-orangnya. Oleh cara seseorang menyapa tetangganya. Oleh cerita yang berulang di warung kopi. Oleh makanan yang rasanya mengingatkan kita pada rumah.
Dan, tentu saja, oleh kenangan.
Kita Tidak Pernah Benar-Benar Kembali
Saya mulai memahami bahwa pulang bukan berarti menemukan semuanya tetap seperti yang kita tinggalkan.
Pulang justru sering kali menjadi cara paling jujur untuk melihat perubahan.
Kita melihat rumah yang catnya sudah berbeda.
Kita melihat pohon yang semakin besar.
Kita melihat wajah orang tua yang perlahan menua.
Kita melihat teman-teman yang dulu bermain bersama kini sibuk membawa kehidupan masing-masing.
Lalu, tanpa diminta, kita juga melihat diri sendiri.
Barangkali itulah yang membuat pulang kadang terasa hangat sekaligus sedikit menyedihkan.
Kita datang dengan membawa ingatan, sementara tempat yang kita datangi telah membawa waktunya sendiri.
Namun mungkin tidak apa-apa.
Tidak semua yang berubah harus kita sesali.
Ada tempat-tempat yang tetap berarti justru karena mereka tidak lagi sama seperti dulu. Ada jalan yang terasa penting bukan karena bentuknya, tetapi karena kita pernah melewatinya bersama seseorang. Ada rumah yang kini lebih sepi, tetapi tetap menyimpan suara-suara yang pernah membuatnya hidup.
Lampung, seperti rumah-rumah yang pernah kita tinggali, akan terus berubah.
Kota-kotanya akan bergerak. Orang-orangnya akan datang dan pergi. Anak-anak yang hari ini bermain di halaman mungkin suatu hari akan merantau dan hanya pulang setahun sekali.
Tetapi saya rasa, selalu akan ada hal kecil yang bertahan.
Mungkin aroma hujan.
Mungkin secangkir kopi di sore hari.
Mungkin jalan pulang yang entah bagaimana masih bisa kita ingat, bahkan setelah bertahun-tahun pergi.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah alasan mengapa kita masih ingin kembali.
Bukan untuk menemukan Lampung yang persis sama seperti dalam ingatan.
Melainkan untuk berdamai dengan kenyataan bahwa tempat yang kita cintai, seperti kita sendiri, juga berhak untuk berubah.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.
Tulis komentar