Ada satu jenis kesepian yang hanya bisa dipahami oleh orang yang punya kekuatan tapi tidak pernah benar-benar diminta memilikinya. Saya memikirkan hal itu lagi, malam-malam belakangan ini, setelah membaca ulang cerita rakyat Si Pahit Lidah yang dulu sering diceritakan nenek saya sebelum tidur, jauh sebelum saya tahu bahwa cerita itu berasal dari tanah Lampung sendiri, bukan sekadar dongeng generik yang beredar di banyak daerah.
Bagi yang belum familiar, Si Pahit Lidah adalah kisah tentang seorang tokoh sakti yang punya kutukan sekaligus anugerah aneh: setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa mengubah apa pun yang ia tuju menjadi batu. Dalam banyak versi cerita, ia mengembara, kadang marah, kadang kesepian, dan setiap kali emosinya meluap dalam ucapan, sesuatu di sekelilingnya berubah menjadi diam selamanya.
Kutukan yang Sebenarnya Bukan Soal Kekuatan
Waktu kecil, saya membaca cerita ini sebagai kisah tentang bahaya kekuatan yang berlebihan, semacam pesan moral sederhana: jangan sembarangan bicara, nanti orang lain celaka. Tapi membaca ulang sebagai orang dewasa, saya menemukan lapisan yang jauh lebih menyayat dari itu.
Si Pahit Lidah, dalam banyak versi cerita, bukan tokoh yang jahat. Ia justru sering digambarkan sebagai sosok yang kesepian, terasing oleh kekuatannya sendiri. Setiap kali ia mencoba berhubungan dengan orang lain, entah lewat amarah atau bahkan cinta, kata-katanya berisiko mengubah hubungan itu menjadi sesuatu yang beku dan tidak bisa kembali seperti semula. Bukankah itu ketakutan yang sangat manusiawi, jauh melampaui logika mistis tentang kutukan?
Berapa banyak dari kita yang pernah merasa kata-kata kita, meski tidak benar-benar mengubah orang jadi batu, tetap punya kekuatan untuk membekukan suatu hubungan selamanya? Kalimat yang terlanjur diucapkan saat marah, permintaan maaf yang datang terlambat, kejujuran yang justru menjauhkan, bukan mendekatkan. Si Pahit Lidah, dalam bacaan saya yang sekarang, terasa kurang seperti dongeng fantasi dan lebih seperti metafora tentang beratnya tanggung jawab atas kata-kata sendiri.
Cerita Rakyat yang Sering Diperlakukan Sebagai Warisan, Bukan Bacaan
Yang menarik, sekaligus sedikit menyedihkan, adalah bagaimana cerita seperti ini sering diperlakukan sebagai artefak budaya yang harus dilestarikan, tapi jarang benar-benar dibaca ulang dengan cara yang hidup. Ia dimasukkan ke buku pelajaran muatan lokal, diceritakan sekali dua kali di acara budaya, lalu kembali disimpan di rak yang jarang disentuh lagi, seolah nilai satu-satunya dari cerita rakyat adalah sebagai penanda identitas, bukan sebagai karya yang masih bisa berbicara dengan pembaca hari ini.
Padahal kalau dibaca dengan cara yang sama seperti kita membaca sastra pada umumnya, bukan sebagai pelajaran sejarah tapi sebagai teks yang punya kedalaman emosional, cerita-cerita seperti Si Pahit Lidah, atau legenda-legenda lain dari tanah Lampung, punya banyak hal yang bisa direnungkan kembali. Tema tentang kekuasaan yang mengasingkan, tentang individu yang berjuang menyeimbangkan kekuatan dengan hubungan manusiawi, tentang perjalanan panjang mencari tempat untuk pulang, itu semua tema yang tetap relevan, bahkan mungkin lebih relevan sekarang, di tengah dunia yang serba terhubung tapi tetap terasa kesepian.
Ketika Cerita Lama Bertemu Pembaca Baru
Saya jadi teringat percakapan dengan seorang teman yang bekerja di penerbitan kecil, yang bercerita tentang minat anak muda terhadap ulang tafsir cerita rakyat, dikemas dalam bentuk novel grafis, cerpen modern, bahkan naskah teater kontemporer. Ada semacam kerinduan baru untuk membaca cerita lama dengan sudut pandang yang berbeda, bukan sekadar menerima versi baku yang diajarkan turun-temurun, tapi mempertanyakan, menafsirkan ulang, bahkan kadang membalik sudut pandang tokohnya.
Bayangkan misalnya, Si Pahit Lidah ditulis ulang dari sudut pandang orang-orang di sekitarnya, yang harus hidup berdampingan dengan seseorang yang setiap emosinya bisa berakibat fatal. Atau ditulis ulang sebagai kisah tentang seseorang yang justru belajar menahan diri, bukan karena takut pada kutukannya, tapi karena akhirnya memahami nilai dari diam yang dipilih dengan sadar, bukan diam yang dipaksakan oleh rasa bersalah.
Kemungkinan-kemungkinan interpretasi semacam ini yang menurut saya membuat cerita rakyat pantas mendapat tempat yang lebih hidup dalam percakapan sastra kita, bukan hanya di rak referensi budaya lokal, tapi juga di meja pembaca yang mencari cerita untuk direnungkan, bukan sekadar dihafal.
Membaca Ulang Bukan Berarti Mengkhianati Aslinya
Ada kekhawatiran yang kadang muncul ketika orang mulai menafsirkan ulang cerita rakyat: takut dianggap tidak menghormati versi aslinya, takut dianggap mengubah warisan leluhur seenaknya. Tapi menurut saya, justru sebaliknya, cerita yang terus dibaca ulang, ditafsirkan ulang, diperdebatkan maknanya, adalah cerita yang benar-benar hidup. Cerita yang hanya disimpan tanpa disentuh, pada akhirnya berisiko menjadi seperti sosok yang ia ceritakan sendiri, diam, beku, hanya jadi monumen, bukan lagi suara yang bisa berbicara pada generasi baru.
Sastra lisan, termasuk cerita rakyat, pada dasarnya memang selalu berubah setiap kali diceritakan ulang. Setiap orang tua yang mendongengkannya ke anaknya menambahkan sedikit warna, sedikit penekanan berbeda, tergantung apa yang sedang mereka rasakan atau ingin sampaikan malam itu. Membaca ulang dengan sudut pandang baru bukan pengkhianatan, melainkan kelanjutan dari tradisi lisan itu sendiri, yang memang tidak pernah dimaksudkan untuk kaku dan tunggal.
Kata-Kata yang Masih Kita Warisi
Menutup tulisan ini, saya jadi berpikir, mungkin yang paling berharga dari cerita Si Pahit Lidah bukan soal kesaktian atau kutukannya, tapi pengingat sederhana bahwa kata-kata kita punya bobot, punya kemampuan membentuk atau menghancurkan hubungan, jauh sebelum konsep itu dibahas dalam buku-buku psikologi modern tentang komunikasi.
Barangkali, tanah Lampung sudah lama menyimpan kearifan itu dalam bentuk dongeng, jauh sebelum kita mulai mencarinya dalam buku-buku terjemahan dari luar. Tinggal soal kemauan kita, apakah mau membacanya kembali dengan mata yang lebih terbuka, atau membiarkannya tetap jadi cerita pengantar tidur yang perlahan dilupakan begitu lampu kamar dimatikan.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.
Tulis komentar