Ada satu pertanyaan yang terus saya pikirkan setelah mengunjungi sebuah sekolah dasar di daerah pinggiran Lampung Utara: kenapa kita sering bicara soal kualitas pendidikan, tapi jarang bicara soal jarak yang harus ditempuh anak-anak hanya untuk sampai ke sekolah?
Pagi itu saya sampai di sekolah sekitar pukul tujuh, dan sudah ada beberapa anak duduk di teras kelas, seragam mereka basah oleh keringat, sepatu penuh debu jalan tanah. Saya tanya salah satu dari mereka, seorang anak laki-laki kelas lima, berapa lama ia berjalan dari rumah. “Kurang lebih satu jam, Bu,” jawabnya santai, seolah itu hal biasa yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Bagi saya, satu jam berjalan kaki setiap pagi, lalu diulang lagi setiap siang untuk pulang, bukan hal kecil. Tapi bagi anak-anak itu, dan bagi orang tua mereka, itu memang sudah jadi bagian dari rutinitas yang diterima begitu saja.
Guru yang Mengajar Lebih dari Satu Peran
Di sekolah itu, saya bertemu dengan Bu Fitri, satu dari tiga guru yang mengajar enam kelas sekaligus, sistem rangkap yang sudah berjalan bertahun-tahun karena kekurangan tenaga pengajar. Ia mengajar kelas satu dan kelas dua secara bergantian dalam satu ruangan yang sama, membagi waktu dan perhatian di antara dua kelompok usia yang kebutuhan belajarnya jelas berbeda.
“Awalnya berat sekali, Bu,” katanya waktu saya tanya bagaimana rasanya. “Tapi lama-lama saya belajar caranya, misalnya kelas satu dikasih tugas menggambar dulu, saya fokus dulu ke kelas dua yang belajar berhitung, baru gantian.”
Yang membuat saya terdiam bukan hanya soal strategi mengajarnya, tapi bagaimana Bu Fitri bicara soal murid-muridnya dengan sangat personal. Ia hafal siapa anak yang orang tuanya sedang sakit sehingga sering absen, siapa yang harus bantu jaga adik dulu sebelum berangkat sekolah, siapa yang sebenarnya pintar tapi jarang percaya diri untuk maju ke depan kelas. Bagi Bu Fitri, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi memahami kehidupan yang dibawa setiap anak ke dalam kelas.
Orang Tua yang Punya Prioritas Berbeda
Di sisi lain, saya juga sempat ngobrol dengan beberapa orang tua murid, dan menyadari bahwa persoalan pendidikan di sini bukan cuma soal jarak atau kekurangan guru, tapi juga soal bagaimana pendidikan bersaing dengan kebutuhan hidup sehari-hari yang lebih mendesak.
Seorang ibu yang saya temui di kebun dekat sekolah bercerita, anak sulungnya sempat berhenti sekolah selama beberapa bulan karena harus membantu orang tua di musim panen. “Bukan tidak mau sekolahin, Bu,” katanya, agak defensif di awal, sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Tapi kalau enggak dibantu, kita enggak makan bulan itu.”
Saya paham, kalimat seperti ini gampang sekali dihakimi dari luar, terutama oleh orang yang tidak pernah berada di posisi harus memilih antara sekolah anak dan bertahan hidup hari itu juga. Tapi justru di situlah pentingnya memahami semua pihak sebelum mengambil kesimpulan. Orang tua ini bukan tidak peduli pendidikan, ia hanya sedang bertahan di tengah pilihan yang sangat terbatas.
Ketika Bantuan Tidak Selalu Sampai ke Akar Masalah
Beberapa program bantuan pendidikan memang sudah masuk ke daerah ini, dari bantuan seragam sampai program makan bergizi. Tapi menurut Bu Fitri, bantuan semacam itu kadang belum menyentuh persoalan paling mendasar, yaitu akses. Jarak yang jauh, jalan yang belum semuanya bagus terutama saat musim hujan, dan minimnya transportasi umum ke sekolah, membuat sebagian anak akhirnya memilih berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak ingin belajar, tapi karena terlalu lelah menempuh perjalanan itu setiap hari.
“Kadang saya mikir, kita sibuk kasih bantuan buku dan seragam, padahal yang lebih dibutuhkan mungkin cuma jalan yang lebih layak, atau ada kendaraan jemputan,” katanya sambil menghela napas pelan.
Ini pengingat penting bagi saya, bahwa kebijakan pendidikan yang baik tidak bisa dirancang hanya dari ruang rapat di kota, tanpa benar-benar mendengar apa yang dibutuhkan oleh sekolah dan keluarga di lapangan. Setiap daerah punya persoalan yang berbeda, dan solusi yang berhasil di satu tempat belum tentu menjawab kebutuhan yang sama di tempat lain.
Anak-Anak yang Tetap Punya Harapan
Meski begitu banyak keterbatasan, ada satu hal yang membuat saya pulang dengan perasaan lebih ringan: anak-anak di sekolah itu tetap punya semangat belajar yang tulus. Saat jam istirahat, saya lihat beberapa anak berkumpul di bawah pohon, membaca buku cerita bergantian, sesekali tertawa keras karena ada bagian yang lucu. Bukan karena disuruh, tapi karena memang senang.
Salah satu anak perempuan kelas empat bercerita, cita-citanya ingin jadi guru seperti Bu Fitri. Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab sederhana, “Karena Bu Fitri sabar, Bu, walaupun kita nakal.” Jawaban itu membuat saya tersenyum, sekaligus menyadari betapa besar pengaruh seorang guru terhadap cara anak memandang masa depan, bahkan di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.
Pendidikan Bukan Hanya Soal Gedung dan Kurikulum
Dari kunjungan ini, saya belajar bahwa pendidikan yang baik tidak selalu identik dengan gedung megah atau kurikulum yang canggih. Kadang, pendidikan yang baik justru terlihat dari seorang guru yang rela mengajar dua kelas sekaligus tanpa mengeluh, dari orang tua yang tetap berusaha menyekolahkan anaknya di tengah keterbatasan, dan dari anak-anak yang tetap semangat berjalan satu jam setiap pagi demi bisa duduk di kelas.
Sebagai orang yang sering menulis soal pendidikan, saya jadi berpikir ulang, mungkin yang perlu kita perjuangkan bukan hanya kurikulum yang lebih baik, tapi juga akses yang lebih adil, supaya semangat anak-anak seperti yang saya temui pagi itu tidak harus terus-menerus diuji oleh jarak dan keterbatasan yang sebenarnya bisa diperbaiki, kalau kita mau benar-benar mendengarkan mereka.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.
Tulis komentar