Langsung ke konten
CeritaBandar Lampung

Kenapa Pulang ke Lampung Selalu Terasa Seperti Bertemu Diri yang Lama

Salsabila Rumi
Agustus 23, 20265 menit baca
Menara Siger Lampung
Menara Siger Lampung
Daftar Isi
  1. 1Rumah yang Tidak Berubah, Tapi Saya yang Berubah
  2. 2Bahasa yang Perlahan Saya Lupakan
  3. 3Tempat yang Sama, Definisi yang Berbeda
  4. 4Pulang yang Tidak Selalu Soal Alamat
  5. 5Yang Masih Saya Pikirkan Sampai Sekarang

Ada satu momen yang selalu saya rasakan tiap kali bus atau kereta mulai memasuki wilayah Lampung. Bukan momen besar, bukan juga sesuatu yang bisa saya jelaskan dengan rapi. Hanya perasaan aneh di dada, semacam campuran antara lega dan gugup, seperti akan bertemu seseorang yang sudah lama tidak saya temui, dan saya tidak yakin lagi bagaimana cara memulai percakapan dengannya.

Orang itu, ternyata, adalah saya sendiri. Versi saya yang dulu.

Saya besar di sini, di salah satu gang kecil yang kalau hujan turun sedikit saja langsung jadi kubangan, tempat anak-anak tetangga main bola plastik sampai magrib memanggil kami pulang satu per satu. Waktu itu saya tidak pernah berpikir akan pergi jauh dari tempat ini. Rasanya Lampung ya dunia, dan dunia ya Lampung. Sampai akhirnya kuliah membawa saya ke kota lain, lalu kerja membawa saya lebih jauh lagi, dan pelan-pelan saya sadar: saya sudah jadi orang yang lebih sering menjelaskan dari mana saya berasal daripada benar-benar berada di sana.

Rumah yang Tidak Berubah, Tapi Saya yang Berubah

Setiap pulang, rumah orang tua saya nyaris sama seperti dulu. Pintu pagar yang masih berderit di engsel yang sama, meja makan yang masih goyang di kaki yang sama, bahkan aroma dapur ibu saya di pagi hari nyaris tidak berubah sejak saya kecil. Tapi anehnya, saya yang berjalan masuk ke rumah itu bukan lagi orang yang sama dengan yang dulu meninggalkannya.

Saya jadi lebih banyak diam saat makan malam, memperhatikan cara ibu saya bicara, cara ayah saya menahan diri untuk tidak banyak bertanya soal kerjaan saya di kota, seolah keduanya tahu ada jarak yang perlu dihormati, bukan buru-buru ditutup dengan obrolan basa-basi.

Ada satu malam saya duduk di teras, ibu saya keluar bawa dua gelas kopi, lalu duduk di sebelah saya tanpa banyak bicara. Kami cuma dengar suara jangkrik dan motor lewat sesekali. Dan entah kenapa, di momen sesederhana itu, saya merasa lebih “pulang” dibanding semua obrolan panjang yang pernah kami lakukan lewat telepon selama saya di kota.

Bahasa yang Perlahan Saya Lupakan

Salah satu hal yang paling membuat saya sedih setiap pulang adalah menyadari betapa bahasa Lampung yang dulu saya dengar sehari-hari, kini terasa asing di telinga saya sendiri. Bukan karena saya tidak lagi cinta, tapi karena saya jarang sekali memakainya. Kosakata yang dulu keluar otomatis, sekarang perlu saya cari-cari dulu di kepala, seperti membuka laci lama yang sudah lama tidak disentuh.

Waktu nenek saya bicara dalam bahasa Lampung ke saya, saya cuma bisa mengangguk, menjawab seadanya dalam bahasa Indonesia, berharap beliau tidak sadar saya sebenarnya tidak sepenuhnya paham. Ada rasa bersalah kecil yang muncul setiap kali itu terjadi. Seolah saya sedang perlahan kehilangan bagian dari diri saya yang tidak akan pernah bisa saya beli kembali di kota mana pun saya tinggal nanti.

Saya pernah cerita ke teman, katanya, “Itu wajar, kan kamu sudah lama di luar.” Tapi saya rasa yang wajar bukan berarti tidak perlu dipertanyakan. Justru karena wajar, kita jadi gampang menerimanya begitu saja, tanpa benar-benar berusaha menahannya.

Tempat yang Sama, Definisi yang Berbeda

Ada satu hal lagi yang baru saya sadari belakangan ini: dulu saya mendefinisikan Lampung sebagai tempat yang “biasa saja”, bahkan kadang terasa membosankan untuk remaja yang selalu ingin melihat dunia yang lebih besar. Tapi sekarang, setelah tinggal di kota lain yang katanya lebih maju, lebih ramai, lebih banyak pilihan, saya justru mulai memahami hal-hal kecil yang dulu saya anggap remeh.

Pasar pagi yang ramai suara tawar-menawar, tukang gorengan langganan yang masih ingat pesanan saya meski saya sudah bertahun-tahun tidak lewat sana, obrolan tetangga di depan rumah yang terasa lebih hangat dibanding grup chat kantor yang penuh emoji basa-basi. Saya baru sadar, yang dulu saya sebut “biasa saja” itu sebenarnya adalah kemewahan yang tidak saya sadari nilainya, sampai saya kehilangan akses untuk merasakannya setiap hari.

Pulang yang Tidak Selalu Soal Alamat

Kadang saya berpikir, pulang itu bukan cuma soal kembali ke alamat rumah. Pulang itu soal kembali bertemu bagian dari diri kita yang sempat kita tinggalkan demi bertahan di tempat lain. Bagian yang berbicara dengan bahasa daerah tanpa canggung, yang mengenal jalan-jalan kecil tanpa perlu aplikasi peta, yang tahu di mana beli kopi enak tanpa perlu baca ulasan online dulu.

Ironisnya, semakin sering saya pulang, semakin saya sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa sepenuhnya kembali menjadi diri saya yang dulu. Saya sudah terlalu banyak berubah, terlalu banyak terbiasa dengan ritme kota lain, sampai kadang saya merasa seperti tamu di rumah saya sendiri. Tapi mungkin memang begitu cara kerjanya. Kita pergi, kita berubah, dan tempat yang kita tinggalkan tetap menunggu, bukan untuk membuat kita kembali persis seperti dulu, tapi untuk mengingatkan kita, ada bagian dari diri kita yang selalu berasal dari sana.

Yang Masih Saya Pikirkan Sampai Sekarang

Saya masih belum tahu jawabannya, apakah nanti saya akan benar-benar pulang untuk menetap, atau seterusnya hanya jadi orang yang datang dan pergi, membawa koper dan rindu bergantian setiap kali. Yang saya tahu, setiap kali saya di dalam bus yang mulai memasuki wilayah Lampung, perasaan itu selalu datang lagi. Campuran antara lega dan gugup, seperti akan bertemu seseorang yang sudah lama tidak saya temui.

Mungkin pertanyaannya bukan soal kapan saya akan pulang untuk selamanya. Mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah, bagian dari diri saya yang mana yang sebenarnya ingin saya jaga, agar tidak ikut hilang setiap kali saya pergi lagi?

Konten ini dibuat oleh pengguna Kelampung. Seluruh isi menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi redaksi.

Sumber Informasi: Menyaksikan langsung
Salsabila Rumi Contributor

Menulis tentang tumbuh dewasa, hubungan antarmanusia, kegagalan, kesepian, pekerjaan, dan segala hal yang sering kita pikirkan tetapi jarang kita ucapkan.

Komentar

1
  1. Avatar photo
    Adi Gunawan

    Ada benernya juga sih.

Tulis komentar

Artikel Terkait

Opini Lampung Utara Agustus 23, 2026

Sekolah yang Jauh, Guru yang Bertahan

Ada satu pertanyaan yang terus saya pikirkan setelah mengunjungi sebuah sekolah dasar di daerah pinggiran Lampung...