Ada satu hal yang selalu bikin saya penasaran tiap kali ngobrol sama pelaku usaha kopi di Lampung: nama daerah ini besar di dunia kopi, tapi kok cerita di lapangan sering tidak sebesar itu.
Saya pernah duduk cukup lama di sebuah kedai kecil di pinggiran Kabupaten Tanggamus, ngobrol dengan pemiliknya, sebut saja Pak Yusuf. Usianya awal lima puluhan, sudah dua puluh tahun lebih berkebun kopi robusta. Dari kebunnya, biji kopi itu berpindah tangan lewat pengepul, lalu pengepul yang lebih besar, sampai akhirnya ada yang sampai ke luar negeri berlabel kopi Lampung. Tapi harga yang diterima Pak Yusuf di ujung rantai itu, jujur saja, tidak sebanding dengan nama besar yang dibawa produknya.
“Yang untung besar itu yang di tengah,” katanya sambil menyeduh kopi buatannya sendiri, tanpa gula, khas petani yang sudah terlalu sering minum kopi sampai tidak butuh manis lagi.
Masalahnya Bukan Kualitas
Ini yang menarik: kualitas kopinya sebenarnya bagus. Beberapa kali ikut pelatihan dari dinas, biji kopinya juga sudah lolos standar tertentu. Masalahnya bukan di kebun, tapi di rantai yang menghubungkan kebun dengan pasar.
Petani seperti Pak Yusuf menjual dalam bentuk gelondongan atau paling jauh biji kering, karena tidak punya alat sangrai sendiri, apalagi kemasan dan merek. Nilai tambah paling besar justru ada di proses setelah itu, roasting, branding, sampai pemasaran, dan itu semua dikuasai pihak lain yang lokasinya bahkan belum tentu di Lampung.
Ini pola yang saya lihat berulang di banyak komoditas, bukan cuma kopi. Orang yang paling capek kerjanya sering bukan yang paling besar untungnya.
Yang Sudah Mulai Berubah
Untungnya, tidak semua cerita berhenti di situ. Ada beberapa kelompok tani di Lampung Barat dan Way Kanan yang mulai belajar mengolah sendiri, dari sangrai sampai kemasan sederhana, lalu jual langsung lewat pasar lokal atau titip di kedai-kedai kecil di kota. Untungnya tidak langsung besar, tapi setidaknya mereka mulai memegang lebih banyak bagian dari rantai nilai itu sendiri.
Salah satu kelompok yang saya temui bahkan mulai jualan lewat media sosial punya anak muda desa yang paham teknologi sederhana. Bukan solusi ajaib, tapi cukup untuk menambah satu, dua pembeli baru tiap bulan yang sebelumnya tidak akan pernah tahu kopi itu ada.
Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang
Dari obrolan-obrolan seperti ini, ada beberapa hal yang menurut saya relevan buat siapa pun yang berurusan dengan usaha kecil di Lampung, bukan cuma soal kopi:
- Nama besar daerah tidak otomatis jadi nama besar untuk pelakunya. Lampung dikenal sebagai penghasil kopi, tapi itu tidak berarti pelaku usahanya ikut dikenal atau sejahtera.
- Nilai tambah ada di ujung rantai, bukan di awal. Siapa yang menguasai proses setelah panen, biasanya dialah yang menikmati margin paling besar.
- Perubahan kecil tetap perubahan. Belajar sangrai sendiri atau jualan lewat media sosial bukan solusi instan, tapi cukup untuk mulai menggeser posisi tawar.
Saya tidak akan bilang semua UMKM harus mengolah produknya sendiri sampai jadi merek besar. Tidak semua orang punya modal, waktu, atau memang mau ke arah sana. Tapi setidaknya, cerita Pak Yusuf ini bisa jadi pengingat: sebelum bicara soal potensi besar Lampung, ada baiknya kita juga bertanya, potensi itu sebenarnya paling banyak dinikmati oleh siapa.

ngopi bang